Senin, 10 Oktober 2016

Sosiologi Pendidikan sebagai Ilmu Murni dan Terapan

Sosiologi Pendidikan sebagai Ilmu Murni dan Terapan



Dariyo dan Muhammad Nuzli


Mahasiswa Program Doktor Kependidikan Universitas Jambi


PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang    
Sosiologi pendidikan adalah sebagai suatu kajian yang mempelajari hubungan antara masyarakat, yang didalamnya terjadi interaksi dengan pendidikan. Telah lama terjadi perdebatan para sosiolog, yaitu apakah sosiologi merupakan ilmu murni atau ilmu terapan. Ketika awal perkembangan sosiologi, Auguste Comte, sebagai bapak sosiologi, telah membahas sosiologi ke arah reformasi sosial, yaitu usaha membangun kembali masyarakat sebagaimana yang diharapkan.
Pemikiran Comte ini tidak dilanjutkkan oleh para peletak dasar teori sosiologi lainnya seperti Emile Durkheim dan Max Weber. Kedua tokoh yang disebut belakangan ini mengembangkan bermacam pemikiran sosiologi yang mengarah pada pengembangan ilmu murni. Pemikiran seperti ini begitu berkembang dalam sosiologi, sehingga Robert Bierssedt dalam The Social Order: An Introduction to sociology, menulis bahwa sosiologi bersama ilmu hukum, geologi, sejarah, ilmu politik, ilmu ekonomi dikelompokkan ke dalam ilmu murni. Adapun politik, manajemen dan akuntansi dimasukkan ke dalam kelompok ilmu terapan.
Perdebatan para sosiolog tersebut secara gamblang ditulis oleh Henslin (2007:11) sebagai berikut:
“Kontradiksi nyata antara dua tujuan ini – menganalisis masyarakat versus upaya mereformasinya – menciptakan suatu ketegangan dalam sosiologi yang sampai sekaran masih ada. Beberapa sosiolog percaya bahwa peran mereka pantas ialah untuk menganalisis segi masyarakat dan menerbitkan temuan mereka dalam jurnal sosiologi.Sosiologi lain bertanggung jawab untuk memanfaatkan keahlian mereka untuk berupaya menjadikan masyarakat sebagai suatu tempat yang lebih baik untuk hidup dan membawa keadilan bagi orang miskin”


B. Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:
1.    Apa yang dimaksud dengan sosiologi murni ?
2.  Apa yang dimaksud dengan sosiologi terapan  ?
3.    Apakah sosiologi pendidikan dipandang sebagai sosiologi murni, terapan atau masuk kedua bentuk sosiologi ini ?


C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana posisi sosiologi pendidikan dalam kaitannya dengan percabangan sosiologi antara ilmu murni dan ilmu terapan.


PEMBAHASAN
A.  Sosiologi Murni
Ilmu Murni adalah ilmu yang membahas atau mendalami ilmu itu sendiri. Dalam pendidikan ilmu murni akan tampak dari adanya usaha untuk membahas teori-teori pendidikan secara dalam.Ilmu Pengetahuan Murni berfokus kepada teori yang ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru.
Ilmu Pengetahuan Murni berfokus kepada teori yang ditujukan untuk menemukan pengetahuan baru. Misalnya, penelitian mata manusia.
Dr. Hj. Binti Maunah, M.Pd.I. Mendefinisikan bahwa sosiologi sebagai ilmu murni (pure science) maksudnya ialah; ilmu yang dipergunakan penelitiannya hanya untuk kepentingan ilmu itu sendiri, tidak dimaksudkan untuk kepentingan sehari-hari, contoh: ilmu Kimia, Matematika, Ilmu Pasti dan lain sebagainya.
Menurut Henslin bahwa sosiologi murni ditujukan pada sesama sosiolog sebagai khalayak sasarannya dan produk yang dihasilkan berupa pengetahuan.

B. Sosiologi Terapan
Ilmu terapan adalah usaha-usaha menerapkan dalam kegiatan proses kehidupan (sebagai alat yang memudahkan kehidupan).
Ilmu Pengetahuan Terapan menempatkan teori-teori ke dalam praktek dengan tujuan mencari solusi dari sebuah masalah. Contohnya ketika diketahui bahwa mata dapat bermasalah, para ilmuwan berhasil menemukan kacamata. Melalui Ilmu Pengetahuan Terapan ini kita mendapatkan berbagai produk dan layanan baru, tetapi perkembangan ini berawal mula dari kemajuan dalam Ilmu Pengetahuan Murni.
Sosiologi sebagai ilmu praktis (applied science), ialah ilmu yang mempunyai tujuan mengaplikasikan rumus-rumus, hukum-hukum dan kaidah-kaidah dalam kehidupan sehari-hari, contoh: ilmu pelayaran, kelautan, teknik, kedokteran, biologi, alam dan lain sebagainya.
Sosiologi terapan diarahkan pada klien yang terdiri dari berbagai macam jenisnya mulai dari perorangan sampai kelompok (perusahaan, komunitas dan pemerintah) dan produk yang dihasilkan berupa perubahan.

C.    Sosiologi Pendidikan Dalam Kaitannya dengan Percabangan Sosiologi antara Ilmu Murni dan Terapan
Dalam kegiatan proses pendidikan menggunakan bantuan teori dan pendidikan dalam mengatasi masalah-masalah anak didik tidak terkecuali pendidikan memerlukan bantuan ilmu murni lain seperti, psikologi, matematika, biologi, untuk membantu proses pendidikanJadi, dapat dikatakan bahwa ilmu pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi memerlukan ilmu lain, seperti: kedokteran, psikologi, sosiologi dan lain-lain.
Ilmu pengetahuan murni (BASIC SCIENCE: Fisika, Matematika, Kimia, dan Biologi) dan teknologi/terapan merupakan dua hal yang saling berhubungan satu sama lain. Teknologi tidak akan bisa berkembang tanpa adanya ilmu pengetahuan murni, dan sebaliknya ilmu pengetahuan membutuhkan teknologi untuk menyediakan fasilitas dan peralatan penelitian yang akurat. Sebagai contoh, mesin uap tidak akan ditemukan tanpa adanya penelitian di bidang ilmu pengetahuan fisika. Di lain pihak, keberhasilan pembuatan mesin uap ini mendorong penelitian lebih lanjut dalam bidang ilmu murni yang berkaitan dengan teori panas dan termodinamika.
Contoh Lainnya: penelitian di bidang mekanika kwantum yang sangat berpengaruh terhadap struktur suatu atom .Studi mengenai hubungan antara elektron dan atom tersebut merupakan dasar bagi industri elektronika pada saat ini. Setelah diketahui bahwa struktur molekul sangat ditentukan oleh sifat mekanika kwantum dari atom dan molekulnya, maka prinsip dasar dari logam, kristal dan material sejenis dengan mudah dapat dijelaskan. Kemajuan di bidang fisika dan mekanika kwantum ini mendorong timbulnya industri kimia untuk mengembangkan jenis material baru dan mendorong kepada penemuan transistor, semikonduktor dan IC yang merupakan awal dari industri komputer pada saat ini.



BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Sosiologi sebagai ilmu murni (pure science) maksudnya ialah; ilmu yang dipergunakan penelitiannya hanya untuk kepentingan ilmu itu sendiri, tidak dimaksudkan untuk kepentingan sehari-hari.
Sosiologi sebagai ilmu praktis (applied science), ialah ilmu yang mempunyai tujuan mengaplikasikan rumus-rumus, hukum-hukum dan kaidah-kaidah dalam kehidupan sehari-hari.
Kemampuan teoritis yang dimiliki oleh seseorang dapat memberikan dan mengasah kemampuan atau kompetensi dalam evaluasi keefektifan kebijakan dan program, menawarkan penyelesaian masalah, serta mengusulkan cara untuk memperbaiki kebijakan dan program yang berkaitan dengan pendidikan dan kependidikan. Oleh sebab itu sosiologi pendidikan juga dapat diarahkan sebagai ilmu terapan. Demikian pula, tidak tertutup kemungkinan, seseorang mampu menjadikan sosiologi pendidikan sebagai ilmu murni dan terapan sekaligus.

REFORMASI PENDIDIKAN DI NEGARA MAJU

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

REFORMASI PENDIDIKAN  DI NEGARA MAJU

DOSEN PENGAMPU:
Prof. Dr. Mujiyono Wiryotinoyo, M.Pd
Prof. Dr. Rahmat Murbojono, M.Pd


O
L
E
H


MONALISA
MUHAMAD NUZLI










PROGRAM STUDI DOKTOR KEPENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
SEPTEMBER 2016






BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Telah dipahami bahwa pendidikan berkaitan erat dengan usaha mengembangkan kecakapan seseorang dalam sikap dan perilaku agar terjadi pendewasaan diri sehingga mampu “survive” dengan dinamisasi masyarakat (Carter V. Good). Kecakapan atau kemandirian tersebut ditandai dengan sedikitnya ketergantungan terhadap orang lain. Pendidikan mengikuti pola kehidupan, dalam hal ini yang menjadi latar belakang adalah masyarakat dan sistem kebudayaan. Dinamisasi masyarakat yang begitu tinggi akibat dari majunya peradaban manusia menuntut semua bangsa di dunia bergerak lebih cepat dan berubah. Membekali anak bangsa agar siap berkiprah dengan perubahan zaman berarti memberi kesempatan untuk mengenyam pendidikan yang inovatif dan sistimatis sesuai perubahan zaman tersebut. Dengan kata lain, jalan menuju perubahan tersebut adalah reformasi  pendidikan.
 Reformasi pendidikan adalah istilah yang diberikan untuk tujuan perubahan pendidikan publik (Wikipedia). Reformasi pendidikan di dunia dalam beberapa referensi sudah dapat ditelusuri terutama reformasi pendidikan dari abad ke 19. Sebagai contoh adalah reformasi pendidikan di Perancis  dengan l’ecole republicaine (Hidayat,2014:97). Namun uraian pada bagian ini dimulai dengan melihat perkembangan pendidikan dunia secara umum dari awal abad ke 20. Menurut Connell (2004:5-8) di awal abad ini, sebenarnya pendidikan formal untuk rakyat kebanyakan yang hidup dari sektor agraria sudah ada tetapi perubahan persekolahan belum memberi dampak berarti bagi mereka. Di negara-negara yang sudah berkembang dan negara maju, pendidikan sudah berjalan mapan, dengan mewajibkan semua anak usia enam tahun atau lebih untuk memperoleh pendidikan sekolah dasar. Sepanjang tahun-tahun pertama abad ini. Bentuk tantangan yang dihadapi oleh para pendidik adalah masalah-masalah sosial, politik, ekonomi di bawah siluet depresi ekonomi pada tahun 30-an yang menimbulkan konflik antara pendidikan massal dan pendidikan elit. Tantangan tersebut memicu munculnya gagasan baru dan praktek kearah terjadinya perubahan dalam tujuan, isi, dan metode mengajar.
Era dekolonisasi (1940an-1970an) ditandai dengan tumbuhnya kesadaran nasional di banyak eks-negara jajahan dimana pendidikan dilihat sebagai alat untk membangun kohesi sosial dan penguatan ekonomi. Isu penting yang  terjadi pada era ini adalah ekspansi kependidikan yang menjadikan  perencanaan pendidikan, pendidikan tingkat menengah yang menyeluruh, rekonstruksi kurikulum,  serta perpanjangan wajib belajar menjadi tema-tema kunci perubahan.
Periode selanjutnya (1980an) berfokus pada restrukturisasi pendidikan melalui jalan (1) organisasi administratif khususnya yang bergerak kearah desentralisasi dan peralihan kewenangan, (2) mencoba menahan pembengkakan anggaran pendidikan yang dibiayai umum. Kebijakan pendidikan kemudian menjadi semakin penting; partnership dalam mengambil keputusan menjadi pertimbangan serius.
Akhir abad 20 kecenderungan perubahan pendidikan di beberapa negara maju mengarah pada penguatan sekolah menengah sebagai persiapan memasuki pendidikan tinggi dan penguasaan teknologi informasi, kemudian diikuti oleh kebijakan tentang pengelolaan pendidikan oleh swasta sebagai private for profit schools, dan pengelolaan kesempatan memperolehan pendidikan  secara non-community (homeschooling).
Dari peta perkembangan pendidikan abad ke 20 yang dipaparkan di atas, dapat diidentifikasi isu-isu yang menjadi pendorong reformasi sepanjang abad itu dan bentuk perubahan/reformasi yang dilakukan. Pertama, isu yang muncul di awal abad ke 20 adalah adalah ketidakmerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas disebabkan oleh strata sosial (rakyat biasa atau elit). Kedua, era dekolonisasi memunculkan pandangan bahwa pendidikan adalah alat untuk membangun kohesi sosial dan penguatan ekonomi. Isu ini dikategorikan sebagai isu penyelarasan tujuan pendidikan. Dalam kaitan ini bentuk perubahan yang dilakukan adalah penyelarasan tujuan pendidikan dalam rangka membangun kohesi sosial dan penguatan ekonomi. Isu selanjutnya pada era 1980an adalah yang berkaitan dengan kualitas pendidikan yakni kegagalan studi, banyaknya pengangguran, dan rendahnya prestasi yang salah satu penyebabnya adalah ketidakbebasan (keterkungkungan) institusi pendidikan di bawah sistem pendidikan  yang sentralistik dan tidak adanya kemitraan (patnership) dengan stakeholders. Terakhir, isu yang menjadi faktor pendorong terjadinya reformasi pada akhir abad ke 20 adalah  ketidakseimbangan kualitas sumber daya manusia dengan tuntutan era millenium yang mengedepankan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis humanism, dan isu lainnya adalah belum berpihaknya kebijakan terhadap pengelolaan pendidikan oleh swasta yang berorientasi profit. Oleh karena itu, perubahan dilakukan pada tataran reformasi kurikulum dan kebijakan pendidikan.
Berbasis pemetaan umum tentang reformasi pendidikan dunia dan identifikasi isu-isu yang menjadi faktor pendorong dan bentuk reformasinya di atas, selanjutnya makalah ini akan meninjau secara spesifik isu reformasi pendidikan di negara maju.

B.  Rumusan Masalah
Apa praktek-praktek reformasi pendidikan di beberapa negara maju dan  isu apa saja yang menjadi faktor pendorongnya?

C.  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk meninjau praktek-praktek reformasi pendidikan di beberapa negara maju dan mengidentifikasi isu-isu yang menjadi faktor pendorong terjadinya reformasi tersebut.

D.      Definisi Istilah Kunci
·           Reformasi Pendidikan adalah upaya perubahan pendidikan.
·           Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata (Wikipedia Bahasa Indonesia).








BAB II
PEMBAHASAN

 Praktek reformasi pendidikan negara maju yang akan ditinjau di sini adalah Perancis, Finlandia, dan Inggris sebagai representasi Eropa. Reformasi pendidikan di Jepang dan China sebagai representasi negara maju dari kawasan Asia. Selanjutnya adalah  reformasi pendidikan di negara Amerika Serikat.

A.  Reformasi Pendidikan di Perancis
Telusuran reformasi pendidikan di Perancis yang diuraikan di sini adalah pemikiran Durkheim (perintis sosiologi pendidikan)  yang dimulai pada kwartal pertama  abad ke 19 di mana negara mewajibkan adanya sekolah dasar bagi setiap kota yang memiliki penduduk lebih dari 500 jiwa yang diperuntukkan khusus murid laki-laki. Kebijakan ini dikenal dangan nama Undang-Undang Guizot dikeluarkan pada 28 Juni 1883 yang berfokus pada penyelengaran pendidikan dasar. Ada dua prinsip penting undang-undang ini, yakni (1) kebebasan sekolah dasar, setiap individu bebas memilih sekolah asal dasar asalkan memperoleh sertifikat kompetensi dan sertifikat moralitas, (2) organisasi pengajaran dasar publik dibangun  terintegrasi di universitas. Kurikulumnya ditekankan pada moral, agama katolik, membaca dan menulis bahasa perancis, serta berhitung. Guizot pada 18 Juli 1883 menetapkan tanggung jawab dan tugas-tugas guru yaitu pendidikan universal.
Peraturan ini diteruskan dengan Undang-Undang Falloux 15 Maret 1850 yang mewajibkan bagi kota dengan penduduk lebih dari 800 orang untuk memiliki sekolah khusus murid perempuan. Secara garis besar undang-undang ini ditujukan untuk mempromosikan ajaran dan pendidikan Katholik di dekolah-sekolah Perancis. Undang-undang ini menciptakan sistem campuran di mana beberepa sekolah dasar berada dibawah pengawasan negara  (sekolah publik) dan sebagian lainnya di bawah pengawasan Katholik (sekolah yang dikelola individu atau yayasan). Jemaat Khatolik boleh mengajar si swasta jika memiliki ijazah /sertifikat pelatihan relevan dari kementerian Agama Perancis. Kurikulum sekolah publik dan Katolik sama yang terdiri dari program wajib (membaca, menulis, berhitung, moral dan agama Katolik) dan program pilihan (sejarah, sain, musik, olah raga, dan menggambar).
Setelah berakhirnya Undang-Undang Falloux, muncul Undang-Undang Duruy 10 April 1867 yang menjelaskan bahwa pemerintah Perancis membutuhkan pembukaan sekolah puteri sebagai penegasan dari UU sebelumnya, dan penegasan lain adalah penguatan pelajaran sejarah dan geografi Perancis sebagai mata pelajaran wajib.
Perkembangan selanjutnya adalah berlakunya Undang-Undang Jules Ferry pada 1 Juni 1878 yang mewajibkan setiap kota untuk membangun sekolah tanpa diskriminasi murid laki-laki dan perempuan. Pada 1881 dan 1882, UU Jules Ferry mempraktekkan sekolah gratis, kewajiban sekolah, dan pendidikan sekuler (sekolah harus netral bebas dari simbol dan praktik agama serta politik).
Pada titik inilah pendidikan di Perancis dikenal dengan l’ecole republicaine yang menekankan tiga prinsip pokok :pendidikan gratis, pendidikan wajib, dan pendidikan sekuler. L’ecole republicaine lahir awal Republik Ketiga dengan Undang-Undang Paul Bert 1879, Undang-Undang  Jules Fery 1881-1882, Undang-Undang Goblet 1886. L’ecole republicaine harus mendukung dua proyek penting: (1) meningkatkan kemampuan warga sebagai pekerja masa depan untuk perubahan ekonomi,  (2)memperkuat rezim, membentuk warga tercerahkan. Kurikulum SD nya berisian: (1) kemampuan Bahasa Perancis, (2) pembelajaran sejarah dan geografi, (3) pendidikan kewarganegaraan.
Praktek reformasi pendidikan di Perancis , terutama abad ke 19 memberi catatan penting bahwa sepanjang abad itu pendidikan di Perancis masih sentralistik. Namun reformasi kurikulum sangat diperhatikan oleh pememrintah. Isu kesetaraaan gender (hak yang sama bagi anak laki-laki dan perempuan) yang  sekaligus menjadi isu pemerataan pendidikan ikut mendorong terjadinya reformasi karakter individual sekolah dari sekolah yang berorientasi gender segmen menjadi sekolah yang  non gender segment. Selanjutnya, adanya reformasi pendidikan guru di mana guru di latih di sekolah-sekolah khusus yang mempersiapkan keteresediaan guru oleh pemerintah.


B.  Reformasi Pendidikan di Finlandia
Di awal 1970-an, sistem pendidikan Finlandia memperlihatkan performa yang kurang berhasil dan berada dalam keterpurukan ekonomi agraris dengan hanya satu macam hasil hutan saja yakni pepohonan yang seterusnya  juga di babat habis sehingga akan lama sekali bisa tumbuh  kembali. Oleh karena itulah Finlandia harus melakukan perubahan sistem pendidikan secara menyeluruh agar mampu mewujudkan ekonomi berbasis pengetahuan.
Finlandia sepenuhnya mulai melakukan perubahan pada tahun 1970-an untuk mempersipkan dan menseleksi guru untuk kepentingan mendatang. Ini adalah reformasi yang amat mendasar karena dengan melakukan ini Finlandia akan memperoleh guru-guru sangat profesional. Setiap guru  bergelar master, dan setiap guru memiliki level kualitas yang tinggi. 
Lantas sejak itu mengajar menjadi profesi yang sangat terhormat. Tidak digaji tinggi, namun amat terhormat. Hanya satu dari sepuluh orang yang melamar jadi guru yang akan lolos. Hasilnya menunjukkan bahwa performa Finlandia pada asesmen internasional, yang dikenal dengan PISA, selalu diatas negara-negara barat.
Reformasi pendidikan Finlandia dimulai sejak akhir 1970-an dan awal 1980-an, melalui tiga fase: (1)  1980-an: Berpikir ulang tentang dasar-dasar teoretis dan metodologis persekolahan, (2)  1990-an: Peningkatan melalui platform berjejaring dan perubahan yang dikelola secara mandiri oleh satuan pendidikan, (3)  2000-an: Efisiensi administrasi dan struktur pendidikan dan persekolahan.
Reformasi pendidikan di Finlandia dilepaskan dari kepentingan politik. Pemerintah yang berganti-ganti tidak membatalkan arah reformasi. Beberapa poin penting pendidikan Finlandia: (1) guru adalah profesi yang sangat dihormati dan memiliki otonomi besar dalam mengendalikan konten dan arah pembelajaran, (2) sekolah negeri sangat mendominasi karena pemerintah berusaha mewujudkan paradigma “setiap sekolah adalah sekolah baik”, (3) pendidikan Finlandia berusaha mengejar kesetaraan bukan kesempurnaan, berusaha mendorong kooperasi, bukan kompetisi, (4) Finlandia menggunakan closed loop system yang mendukung lifelong learning
C.  Reformasi Pendidikan di Inggris
Selama abad pertengahan, sekolah-sekolah didirikan untuk mengajarkan bahasa Latin kepada anak-anak bangsawan sebagai bagian dari persiapan menjadi pendeta dan layanan keagamaan. Di abad ke 19 gereja Inggris mensponsori pendidikan formal sampai dengan pemerintah Inggris menyediakan pendidikan wajib gratis akhir abad tersebut. University College London adalah College sekuler pertama di Inggris yang menerima semua mahasiswa dari semua agama ataupun yang tidak beragama.
Pada tahun 1811 telah berdiri National Society for Promoting the Education of the poor in the principles of the etablished Church di Inggris dan Wales. Berdasarkan sejarahnya, sekolah-sekolah yang didanai oleh National Society dinamakan  National Schools (masih menjadi bagian dari sistem sekolah negeri/pemerintah). Pada tahun 1814, penghapusan program magang. Sampai dengan tahun 1831, sekolah minggu di Great Britain dilaksanakan mingguan bagi 1,250,000 anak, sekitar 25% dari populasi. Karena sekolah semacam ini ada lebih awal dari ekolah pemerintah, sering kali dijadikan pelopor sistem sekolah di Inggris. Pada tahun 1818, John Pounds yang dikenal dengan “Cripple Cobbler” mendirikan sekolah dan mengajar anak-anak miskin membaca, menulis, dan aritmatika tanpa memungut biaya/gratis. Di tahun 1820, Samuel Wilderspin membuka sekolah bayi yang pertama di Spitalfied. Di bulan Agustus 1833, parlemen melakukan voting unutk pengalokasian sejumlah dana bagi anak-anak miskin, inilah pertam kalinya pemerintah terlibat dalam pendidikan di Inggris. Sebuah pertemuan di Manchester pada tahun 1837 diketuai oleh Mark Philips mendirikan Lanchasire Public School Association. Asosiasi ini mengajukan bahwa sekolah-sekolah non denominational (sekolah yang tidak dimiliki satu/kelompok orang) harus didanai dari pajak lokal.
Durham University juga berdiri awal abad ke 19. Sampai akhir abad ke 19 berdiri sebuah perguruan tinggi umum dengan nama redbrick. The 1994 Education Act mendirikan sistem Tripartit grammar school dan sekolah menengah modern dan masih berdiri sampai dengan tahun 1972.
Di abad 21 ini, pemerintah Inggris baru saja menerapkan kurikulum baru yang menjadi pembicaraan karena memasukkan materi pemrograman komputer kepada siswa sejak dini untuk melatih kemampuan logika. Perubahan kurikulum dilakukan secara bertahap: diumumkan pada 2010, dilanjutkan penyusunan dan uji publik intensif selama dua tahun, uji coba penerapan pada tahun 2013, diakhiri dengan penerapan bertahap mulai tahun 2014 sampai dengan 2017.

D.  Reformasi di Jepang
Awal abad ke 19 di Jepang  perubahan terjadi bukan perubahan yang mendasar pada jumlah sekolah namun pada institusi pendidikan itu sendiri yakni berupa intervensi pemerintah yang sistematis terhadap pendidikan untuk anak-anak.  Dua faktor utama penyebab fenomena ini adalah (1) peningkatan industri kapitalis. Industrilisasi telah mendorong tuntutan pendidikan bagi masyarakat; sebaliknya perubahan demografi dan dislokasi sosial dampak industrilisasi mendatangkan kecemasan bagi para  elite. Kekhawatiran akan bahaya banyaknya massa tidak terdidik  yang bisa berdampak ke regulasi sosial  membuahkan ide bagaimana mencegah  kegelisahan melalui manajemen sosial. Para elit, kaum intelektual, reformis, dan pejabat pemerintah menyadari bahwa sekolah bisa menjadi kenderaan untuk mengajarkan displin, kesederhanaan, dan nilai-nilai kondusif lainnya sebagai bekal menjalankan peran baru mereka sebagai masyarakat industri. (2) perkembangan besar lainnya yang ikut membentuk intervensi pemerintah terhadap pendidikan adalah darurat kenegaraan. Keterlibatan aktif seluruh masyarakat dalam kehidupan bernegara seperti menggerakan mereka untuk berbuat bagi negara, dan menanamkan kecintaan pada negara bisa difasilitasi oleh sekolah.  Sebagaimana sekolah bisa mempersiapkan manusia dengan peran ekonominya di masyarakat indusrti, sekolah bisa juga mempersiapkan masyarakat dengan peran politiknya di kehidupan bernegara.

E.       Reformasi Pendidikan Cina
Pada bulan Juni 2013, pemerintah pusat Cina mengeluarkan panduan untuk seluruh propinsi dalam mereformasi model penilaian mutu pendidikan. Ada 5 area yang jadi penilaian: (1)   Perkembangan Moral yang diindikasikan oleh perilaku dan kebiasaan, kewarganegaraan, kepribadian dan karakter, serta ambisi dan prinsip-prinsip yang dianut. (2) Perkembangan Akademik yang diindikasikan oleh pengetahuan dan keahlian, pemikiran disiplin, kemampuan aplikasi serta kreativitas. (3).   Kesehatan Jiwa dan Raga yang diindikasikan oleh kebugaran fisik, kebiasaan hidup sehat, selera artistik dan keindahan, kesehatan emosional, kemampuan mengendalikan diri serta komunikasi interpersonal. (4)   Perkembangan Minat dan Bakat Unik yang diindikasikan oleh rasa ingin tahu, bakat dan keahlian unik, serta penemuan dan pengembangan potensi diri.
(5) Pengurangan Beban Akademik yang diindikasikan oleh waktu belajar [mis: lamanya jam pelajaran, pekerjaan rumah, waktu untuk tidur, dll., kualitas instruksi, tingkat kesulitan pelajaran serta tekanan akademik.
Pada bulan Agustus 2013, pemerintah Cina mengeluarkan dokumen lanjutan untuk mendorong daerah dan sekolah mengurangi beban akademik bagi siswa pendidikan dasar: (1) Penerimaan siswa yang transparan dan hanya berdasarkan domisili siswa, (2) Pengelompokan siswa dan guru secara seimbang dan acak, tanpa kelas-kelas khusus, (3) Pengajaran “titik awal nol” dengan asumsi kecakapan siswa mulai nol dan tidak ada ekspektasi akademik tinggi, (4) Tidak ada pekerjaan rumah tertulis, tapi boleh memberi PR “eksperiensial” dengan ortu dan masyarakat, (5) Mengurangi ujian. Standardized test dilarang untuk kelas 1-3 SD. Berikutnya, hanya boleh satu per semester, (6)  Evaluasi kategorikal. Sekolah tidak boleh memberi nilai angka, tapi kategori mulai “cukup” sampai “luar biasa”,
(7)Meminimalkan material tambahan. Hanya boleh satu material tambahan selain buku utama, (8) Tidak boleh ada kelas tambahan, (9)  Kegiatan olahraga minimal satu jam. Sekolah juga harus berikan waktu istirahat dan relaksasi yang cukup, (10) Memperkuat dukungan pada sekolah. Otoritas pendidikan di semua tingkat kepemerintahan harus melakukan inspeksi secara periodik dan mengawasi langkah nyata dalam mengurangi beban akademik siswa, serta wajib mempublikasikan temuannya.


.




BAB III
KESIMPULAN

Isu-isu umum yang menjadi faktor pendorong reformasi pendidikan di negara maju adalah diantaranya:
1.    Pemerataan/akses memperoleh pendidikan
2.    Penyelarasan tujuan persekolahan
3.    Kualitas pendidikan, pembiayaan, akuntabilitas

Dari praktek-praktek reformasi pendidikan di negara maju dapat diidentifikasi ranah pembaharuannya:
1.    Mereformasi kurikulum
2.    Mereformasi pendidikan guru
3.    Desentralisasi terbatas
4.    Mereformasi evaluasi dan penilaian
5.    Mereformasi karakter individual sekolah






















REFERENSI
Hidayat, Rakhmat. 2014. Sosiologi Pendidikan Emile Durkheim. Lyon:

Connell, Helen. 1998. Reformasi Pendidikan. Diterjemahkan oleh Solicha dan Ahmad Sayyid. 2004. Jakarta: Logos

palingberkesan.blogspot.com › INFO PENDIDIKAN  Jan 8, 2. Retrived minngu, 18 sept 2016

(Carter V. Good; dictionary of education,1959, new york :Mc Graw Hill).

https://www2.ed.gov/about/.../list/.../history.pdf